when my world is gray

when my world is gray
kali kuning Yogyakarta

Sabtu, 14 Januari 2012

150 menit pikiranku tentangmu


Picture by Google

Hai kamu yang di duduk di sudut ruangan itu...
tak sadarkah bahwa 2,5 jam ini aku telah memperhatikanmu?
Ah... tentu saja kau tidak sadar.. Sedari tadi matamu tidak pernah lepas dari dua layar : monitor dan telepon genggam.
Seakan tanpa dua layar tersebut kau tidak akan dapat bernafas.
Kau terlihat gelisah beberapa saat hai Tuan, apakah yang sedang kau pikirkan?
Apakah dirimu menanti seseorang disini?
Tempat ini cukup ramai dan kehadiranmu menyeimbangkan keadaan.. Sungguh indah mengamati satu kesendirian ditengah keriuhan.
Jika suatu saat aku bertemu denganmu lagi... aku akan menceritakan apa saja yang kubayangkan denganmu selama 150 menit terakhir...

10 menit, pertama
Aku mengamatimu, memperhatikan semua barang elektronik yang mulai kamu keluarkan satu persatu setelah kamu duduk di sofa merah itu.
Kamu memesan kopi dengan krim dan sedikit gula, meminumnya sedikit sebelum kembali tenggelam dalam layar.

20 menit, kedua
Aku mulai datang menghampirimu, menanyakan mengapa sedari tadi kau hanya duduk sendirian dan menanyakan beberapa basa-basi. Kemudian kita berkenalan, kamu menawariku untuk duduk didekatmu dan kita mulai saling banyak bertanya. sisanya kita menghabiskan waktu hingga tengah malam membicarakan tentang berbagai macam lelucon dan filosofi hidup.

30 menit, ketiga
Kita menjalani banyak sekali pertemuan-pertemuan semenjak hari itu. Telah tak terhitung jumlah karcis bioskop yang kita kumpulkan, lagu yang kita nyanyikan bersama, gelas-gelas kopi dari berbagai kedai, beberapa tempat makan kesukaan, ruas jalanan yang kita lewati dan kabut sore yang mendekatkan kita berdua.

40 menit, keempat
Untuk pertama kalinya kamu datang ke rumah orang tuaku, segalanya berlangsung sangat baik. Beberapa minggu berikutnya kamu mengajakku ketempat dimana kita berdua pertama kali bertemu. Kali ini tanpa semua peralatan elektronik, kamu hanya membawa satu kotak kecil berisi cincin berwarna perak, aku mengerti.. kamu tak suka warna emas dan beberapa menit sesudahnya aku mengucapkan "iya". Selang empat minggu dari pertemuan terakhir kita dan kamu datang kembali ke rumah orang tuaku bersama orang tuamu. Sore itu merupakan sore yang sangat membahagiakan selama seperempat abad hidupku.

50 menit, terakhir
Pesta pernikahan berlangsung sesuai keinginan kita, sederhana.. hanya keluarga dan beberapa teman terdekat yang kita undang. Membutuhkan waktu dua hari dua malam untuk merayu orang tua kita agar tidak menyelenggarakan pesta besar-besaran, kadang para orang tua tidak mengerti betapa kita sangat menyukai kedekatan yang berarti.
Kita tinggal di dpinggir kota, membutuhkan waktu setidaknya satu jam dengan kondisi jalanan lancar untuk mencapai tengah kota, itu sebabnya aku memilih untuk melahirkan anak pertama kita ruma bersalin dekat dengan rumah orang tuaku, mereka bisa menjagaku 24 jam sehingga kamu tidak perlu khawatir akan terlambat mengantarkanku ke Rumah Sakit apabila sudah saatnya.
Pagi ini kita sekeluarga sibuk, hari ini pertama kalinya si abang masuk sekolah, aku memintamu mengantar dia karena aku harus mengurus si adek yang badannya sedang sedikit demam.
Siang yang cukup terik, kita berdua mengantar si adek yang akan mulai bersekolah di luar negeri, kantor tempat dia bekerja sungguh baik menawarinya beasiswa. Telepon genggam adek mendadak berdering, adek mengatakan pada kita bahwa abang sekeluarga sangat bersedih tidak ikut mengantarkan adek ke bandara karena mereka tinggal di luar kota, "tak apa" kata adek.
Sore yang tenang.. setenang wajahmu yang tampak bagai orang tertidur pulas. Kita hanya berpisah sementara hai belahan jiwaku.. hanya masalah waktu sampai aku akan bertemu denganmu kembali. Dan dibanding dengan puluhan tahun kebersamaan kita, pasti hal itu tak akan terasa lama.

Mulai masuk menit ke 151, kamu bersiap pergi dari sofa merah itu.. dan aku masih diam di tempatku, bersiap menuliskan bayangan-bayanganku selepas kepergianmu dari kedai kopi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar