when my world is gray

when my world is gray
kali kuning Yogyakarta

Sabtu, 30 Juni 2012

111 days

Tepat pada hari ini, 111 hari sejak kita pertama bertemu.
Angka itu bukan suatu kebetulan, angka satu itu istimewa, dan aku selalu suka angka tiga.
Jadilah 111 hari ini adalah hari-hari istimewa yang aku suka.

Aku tak ingin membicarakan bagaimana kita bertemu dulu, aku justru ingin sedikit berjalan ke masa lalu..
menceritakan apa yang dulu pernah aku alami.

akan kuperlihatkan padamu surat yang kutulis pada masa lalu.

-Pertengahan tahun 2008-

Aku dulu pernah berkata : tak ada yang lebih kuat daripada keyakinan.
keyakinan atas apapun itu..


seringkali beberapa dari temanku berceletuk "kenapa sih harus ada cerita berpisah karena beda keyakinan (agama)"
tak aku pungkiri, akupun pernah bertanya hal yang sama.
Perbedaan itu hal yang indah, apabila kita saling bertoleransi.
dan kita, pada saat itu sudah mempunyai toleransi yang sangat besar atas perbedaan itu.
aku.. dan kamu mempunyai segala hal yang sejalan kecuali dalam hal bagaimana kita memanjatkan doa pada pemilik jiwa dan raga.
Aku ingat bahwa kita tidak pernah berselisih sampai harus bertengkar hebat, karena kita tahu, bahwa pertengkaran sekecil apapun akan dapat meruntuhkan segalanya.


ibarat sebuah bangunan, kita bagai tak mempunyai pondasi yang kuat, sedikit goncangan akan dapat meruntuhkan semua yang telah kita bangun.
akhirnya waktu itu kita tetap berjalan dengan membawa perbedaan yang ada sembari berharap akan menemukan solusi atas perbedaan tersebut.


dan kita gagal... 
perbedaan akan indah apabila kita berjalan beriringan, namun akan menjadi chaos saat kita berusaha meleburnya.
jalan yang kita tempuh selama hampir 5 tahun akhirnya menemukan ujung. 
ujung yang dahulu kita bayangkan akan bercabang ke kiri atau ke kanan ternyata hanya tepian tebing curam.
kita tak dapat lagi berbelok, berkelit, kita harus mundur dan mengambil jalan masing-masing karena apabila kita berdua memaksa terus, kita hanya akan terperosok jatuh ke jurang.
aku mengerti, kamupun pahami, saat itu kita hentikan langkah dan terpisah, menyisakan memori yang meninggalkan goresan setiap kali kita mengingatnya.
aku mencintaimu, kamu mencintaiku, oleh karena rasa cinta itu.. kita memilih untuk saling menjaga, dengan tidak melompat ke jurang.


----------

itulah mengapa aku tak pernah bertanya padamu atas pilihan yang kamu ambil.
aku kehilanganmu, tentu saja.
Aku menjadikan diammu sebagai alasan untuk aku menyimpulkan jawaban sendiri.
aku bahkan kini sudah tak perduli dengan segala konfirmasi.
karena kita memang tak ada jalan, dari awal akupun menyadari bahwa aku kembali berdiri di depan jurang.
kali ini tak memberiku kesempatan untuk maju barang satu langkah.

Namun bisa suatu saat bila kamu ingin tahu bagaimana perasaanku,
"aku sayang kamu"
maaf apabila kalimat itu tak sempat kuucapkan padamu sebelumnya.

Senin, 28 Mei 2012

atas nama Cinta

Aku tak pernah merasa bahwa semua candaan di OVJ itu lucu.
bila kamu tau, pertama kalinya aku tertawa menonton acara penuh slapstick itu adalah saat aku menontonnya bersamamu... dan tawaku itu bukan karena Sule, Nunung, Aziz ataupun Andre... Namun kamu.
karena entah mengapa, tertawa bersamamu itu merupakan suatu momen yang patut dilestarikan : langka dan indah.
Aku akan selalu ingat bagaimana awal-awal pertemuan kita.
Aku selalu tahu bahwa kamu orang yang sangat istimewa, bahkan sebelum aku bertemu langsung denganmu.
Tak akan pernah aku lupa di kedai kopi itu, (aku menyebutnya kedai dan bukan cafe) kamu memesan minuman..,

Pelayan : pesanan atas nama siapa Mas?
kamu    : "atas nama Cinta, mbak"

Setelah itu tak kuingat lagi berapa banyak gelas kopi, tiket bioskop, atau berapa kali kita menonton acara OVJ, yang jelas aku ingat aroma parfum bercampur aroma tubuhmu.
Dan tahukah kamu bahwa aroma tubuh itu mencirikan seseorang? aku tahu, bahwa pada saat aku merindukanmu, pastilah aku akan merindukan aroma tubuh itu juga.

Hal yang selalu menjadi favoritku adalah berbagi cerita oh.. bukan... mendengar ceritamu.
aku bisa menghabiskan berjam-jam berkirim pesan, atau hanya duduk di pinggir kolam hingga dini hari.

Jujur aku tak pernah menemukan alasan untuk dapat membencimu, padahal hal itu ingin sekali aku lakukan.
bukan karena aku terlalu mencintaimu, namun karena kamu yang tak punya sesuatu untuk kubenci.
Aku tak dapat menyalahkan kenaifan dan ketidak-tahuanmu.

Sungguh, aku dan kamu hanyalah bersikap normal dengan dua cara yang berbeda.
Kita tidak dapat saling menyalahkan, hanya saling mengerti, aku tahu bahwa kita berdua memahami satu konsep yang pasti.
Konsep dimana perasaan merupakan salah satu hal yang tak dapat dipaksakan.


Jumat, 25 Mei 2012

Surat untuk Aliens

Dear Aliens,

Sebelumnya, aku tak pernah meminta apapun padamu..
Sungguh, aku tau kau hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugasmu.
Namun perlu kau ketahui, seorang yang kamu culik sekarang ini..
adalah seorang yang benar-benar aku sukai.
Aku tak heran mengapa kamu memilihnya untuk sekedar kau bawa ke planetmu.
Dia seorang yang sangat baik, benar-benar istimewa.
Mungkin kamu mengetahui lebih dari semua yang sudah aku ketahui tentangnya.
Namun dia tetap kesukaanku.

Dear Aliens,

Aku tak akan melepasnya dengan mudah,
namun aku juga tak akan memaksanya untuk tetap tinggal, bila dia memang ingin pergi ke planet tak bernama itu.
Aku tau, apapun itu... disana pasti ada hal lebih penting yang membuat dia harus selalu kembali di planetmu.

Namun kamu terlalu rakus, Aliens...
Bermula dari satu-dua hari, menjadi beberapa hari, dan akhirnya masuk hitungan minggu kau menculiknya, membawanya ke tempat yang tak terjangkau olehku.
Aku tau dia pasti baik-baik saja.

Namun coba lihatkah rasaku...
Bendungannya sudah tak kuat menahan luapan rasa rindu.

Dear Aliens,
Sekarang dia benar-benar menghilang...
Aku juga tidak dapat mengajaknya pulang.

Namun aku mohon padamu untuk mencatat alamatku, dan berikan alamat ini padanya "pada saat dia menyebutkan namaku"


Selasa, 21 Februari 2012

Kadang-kadang

Kadang-kadang.....

Kau kadang-kadang mencintaiku...

Aku kadang-kadang...

Menangis karena mencintaimu.

Sabtu, 14 Januari 2012

150 menit pikiranku tentangmu


Picture by Google

Hai kamu yang di duduk di sudut ruangan itu...
tak sadarkah bahwa 2,5 jam ini aku telah memperhatikanmu?
Ah... tentu saja kau tidak sadar.. Sedari tadi matamu tidak pernah lepas dari dua layar : monitor dan telepon genggam.
Seakan tanpa dua layar tersebut kau tidak akan dapat bernafas.
Kau terlihat gelisah beberapa saat hai Tuan, apakah yang sedang kau pikirkan?
Apakah dirimu menanti seseorang disini?
Tempat ini cukup ramai dan kehadiranmu menyeimbangkan keadaan.. Sungguh indah mengamati satu kesendirian ditengah keriuhan.
Jika suatu saat aku bertemu denganmu lagi... aku akan menceritakan apa saja yang kubayangkan denganmu selama 150 menit terakhir...

10 menit, pertama
Aku mengamatimu, memperhatikan semua barang elektronik yang mulai kamu keluarkan satu persatu setelah kamu duduk di sofa merah itu.
Kamu memesan kopi dengan krim dan sedikit gula, meminumnya sedikit sebelum kembali tenggelam dalam layar.

20 menit, kedua
Aku mulai datang menghampirimu, menanyakan mengapa sedari tadi kau hanya duduk sendirian dan menanyakan beberapa basa-basi. Kemudian kita berkenalan, kamu menawariku untuk duduk didekatmu dan kita mulai saling banyak bertanya. sisanya kita menghabiskan waktu hingga tengah malam membicarakan tentang berbagai macam lelucon dan filosofi hidup.

30 menit, ketiga
Kita menjalani banyak sekali pertemuan-pertemuan semenjak hari itu. Telah tak terhitung jumlah karcis bioskop yang kita kumpulkan, lagu yang kita nyanyikan bersama, gelas-gelas kopi dari berbagai kedai, beberapa tempat makan kesukaan, ruas jalanan yang kita lewati dan kabut sore yang mendekatkan kita berdua.

40 menit, keempat
Untuk pertama kalinya kamu datang ke rumah orang tuaku, segalanya berlangsung sangat baik. Beberapa minggu berikutnya kamu mengajakku ketempat dimana kita berdua pertama kali bertemu. Kali ini tanpa semua peralatan elektronik, kamu hanya membawa satu kotak kecil berisi cincin berwarna perak, aku mengerti.. kamu tak suka warna emas dan beberapa menit sesudahnya aku mengucapkan "iya". Selang empat minggu dari pertemuan terakhir kita dan kamu datang kembali ke rumah orang tuaku bersama orang tuamu. Sore itu merupakan sore yang sangat membahagiakan selama seperempat abad hidupku.

50 menit, terakhir
Pesta pernikahan berlangsung sesuai keinginan kita, sederhana.. hanya keluarga dan beberapa teman terdekat yang kita undang. Membutuhkan waktu dua hari dua malam untuk merayu orang tua kita agar tidak menyelenggarakan pesta besar-besaran, kadang para orang tua tidak mengerti betapa kita sangat menyukai kedekatan yang berarti.
Kita tinggal di dpinggir kota, membutuhkan waktu setidaknya satu jam dengan kondisi jalanan lancar untuk mencapai tengah kota, itu sebabnya aku memilih untuk melahirkan anak pertama kita ruma bersalin dekat dengan rumah orang tuaku, mereka bisa menjagaku 24 jam sehingga kamu tidak perlu khawatir akan terlambat mengantarkanku ke Rumah Sakit apabila sudah saatnya.
Pagi ini kita sekeluarga sibuk, hari ini pertama kalinya si abang masuk sekolah, aku memintamu mengantar dia karena aku harus mengurus si adek yang badannya sedang sedikit demam.
Siang yang cukup terik, kita berdua mengantar si adek yang akan mulai bersekolah di luar negeri, kantor tempat dia bekerja sungguh baik menawarinya beasiswa. Telepon genggam adek mendadak berdering, adek mengatakan pada kita bahwa abang sekeluarga sangat bersedih tidak ikut mengantarkan adek ke bandara karena mereka tinggal di luar kota, "tak apa" kata adek.
Sore yang tenang.. setenang wajahmu yang tampak bagai orang tertidur pulas. Kita hanya berpisah sementara hai belahan jiwaku.. hanya masalah waktu sampai aku akan bertemu denganmu kembali. Dan dibanding dengan puluhan tahun kebersamaan kita, pasti hal itu tak akan terasa lama.

Mulai masuk menit ke 151, kamu bersiap pergi dari sofa merah itu.. dan aku masih diam di tempatku, bersiap menuliskan bayangan-bayanganku selepas kepergianmu dari kedai kopi ini.

bom waktu itu bernama hati


Picture by Google

Tulisan ini khusus buat para pria..


Aku sering tidak mengerti mengapa para pria bisa tahan melihat wanita menangis
sebagai seorang wanita, aku selalu merasa bingung dan jadi ikut sedih bila melihat sahabat atau orang terdekat menangis..
tidakkah para pria itu merasa bersalah? ikut tersakiti melihat air mata keluar dari seorang wanita?
buat aku sih, wanita itu sosok yang kuat.
wanita bahkan siap untuk merasa sakit setiap bulan dan siap berada di batas hidup dan mati saat dia melahirkan.
siap menjaga manusia lain di dalam rahimnya..
dan apabila wanita menangis.. maka betapa buruknya penyebab tangisan itu.
Pada umumnya menjaga wanita itu mudah..
Wanita hanya ingin selalu merasa disayangi, diperhatikan dan merasa terlindungi.
Kadang kami para wanita sulit mengungkapkan itu dalam bahasa lugas, namun yang jelas kami mudah sekali melebur kemarahan apabila sudah mendapat perlakuan yang kami inginkan.
Dan satu lagi... biarpun kesannya kejam dan menyakitkan, akan lebih baik kalau berkata jujur pada wanita. Walau kadang menyakitkan, walau kadang tidak tega.. tapi hal itu lebih baik daripada harus menimangnya dalam kebohongan panjang.
Jangan pernah menaruh hati seorang wanita dalam ketidakpastian, karena hanya akan merubahhati wanita jadi bom waktu. Saat ia meledak, semua yang didekatnya akan terluka.


21:50, kamar, sedang menemani seorang sahabat wanita.