when my world is gray

when my world is gray
kali kuning Yogyakarta

Jumat, 08 Februari 2013

Menikah sebagai solusi?

Tulisan ini dibuat karena kegenggesan gue dalam menghadapi beberapa orang sekitar gue.

Akhir bulan Januari seorang teman bercanda dan mengatakan "mba Eva, tahun 2013 sudah berkurang satu bulan lho"
Maksud dia adalah : deadline dengan "waktu pernikahan ideal" sudah lebih dekat lagi.
Ya karena gue cewek berusia 27 tahun yang hingga tulisan ini dibuat belum menikah dan bahkan belum menampakkan tanda-tanda akan segera menikah, seperti halnya orang tua dan saudara, temen-temen gue juga sudah merasa gusar dengan status gue ini.

Pertanyaannya "kenapa justru orang lain yang gusar sedangkan guenya santai-santai saja?"

Sebenarnya kalau dibilang gue anti pernikahan pasti juga salah besar, bagaimanapun juga gue pengin menikah, masalahnya kalau memang belum menemukan seseorang yang "pas" menurut diri sendiri, terus apa ya mau dipaksa?

Masalahnya di budaya timur, orang-orang sudah terjebak oleh konstruksi sosial, dimana cewek harus menikah sebelum usia 30 tahun lah, cewek harus nurut suami lah, penghasilan suami harus lebih besar dari istri, dsb.
Ditambah kesan yang ditimbulkan orang-orang sekitar bahwa jomblo itu kaum-kaum tersesat yang harus segera dibantu, belom lagi kalimat-kalimat yang ga jelas maksudnya apakah memuji atau menghina seperti "cantik-cantik kok jomblo?" Atau "masa orang seperti kamu ga ada yang mau?" Yang makin bikin gengges.

Seminggu ini gue sakit flu, sudah beberapa pil ditelan tetap saja penyakit membandel, mungkin karena gue belum sempat beristirahat total selama sakit karena terus masuk kerja.
Dan seorang teman kembali bercanda usil "mbak, itu mungkin itu suatu pertanda, bahwa mbak harus segera menemukan jodoh"
Spontan gue langsung memberikan pertanyaan balasan "memang jodoh itu sehebat nabi? Sehingga selalu menjadi solusi atas semua permasalahan hidup gue?"
Sakit suruh nikah, stress suruh nikah, sedih suruh nikah, miskin suruh nikah.
Lah.. Emang nanti suamiku pasti seorang yang punya segala-galanga sehingga bisa memberi semua solusi? Yakin darimana bahwa setelah menikah nanti ga akan ada permasalahan lanjutan?

Jadi teringat kata-kata seorang teman (sebut saja Joseph Sudiro) melalui tweetnya yang kira-kira begini bunyinya "tren masa kini, selesaikan semua masalah denan menikah" sebuah tweet sarkas menanggapi fenomena "keharusan menikah" akhir-akhir ini.

Gue percaya, pada saat seseorang siap untuk bertemu jodoh pasti juga akan menikah.
Masalahnya, kadang kita sendiri ga tau kapan kita siap menikah. Kadang sudah merasa siap tapi ga juga bertemu jodoh, ya mungkin Tuhan (sebagai makhluk percaya Tuhan) menganggap kita belum siap untuk ditemukan dengan jodoh.
Nah kalau Tuhan saja menganggap kita belum siap, ya masa trus orang lain mau memaksa menikah?

Terus kalo menikah karena tekanan orang sekitar dan kemudian tidak bahagia siapa yang mau tanggung jawab? Orang-orang?

Lalu akan ada kalimat susulan "lha tapi kalo ga berusaha ya mana mungkin bertemu dengan jodoh"

Jawaban gue buat kalimat seperti itu "emang kamu tahu seberapa jauh usahaku? Emang kamu terus mengikutiku 24 jam sehingga bisa berpendapat seperti itu?"
Kesiapan orang sendiri-sendiri dan tidak sama, plus kesiapan bukan hanya sekedar memperbaiki diri dan memperbanyak koneksi, banyak hal yang harus dilakukan, dan tentunya tidak dalam waktu singkat. Jadi sebaiknya jangan sok tahu. :)

Seperti yang ditulis oleh Henry Manampiring dalam bukunya "cinta tidak harus mati" bahwa terdapat yang namanya Emergent System dalam cinta, bahwa sebuah permasalahan bisa terdiri dari banyak faktor, dan penyelesaiannya tidak bisa dari satu elemen saja, begitu pula soal mencari jodoh.
Mungkin bukan hanya kesiapan, tapi bisa juga waktu yang tepat, orang yang tepat, keadaan yang tepat, lingkungan yang tepat. Kalau faktor-faktor tepat tadi belum lengkap, ya jangan dipaksa.

Intinya, jangan memburu-buru orang untuk segera menikah, kamu tidak tahu apa saja yang telah mereka usahakan untuk itu.

Masih ditulis oleh Henry dalam bukunya "Love favors the prepared, cinta berpihak kepada mereka yang siap" :)



My room,11.53 bedrest (literally)


- Posted using BlogPress from my iPhone

7 komentar:

  1. semoga cepet sembuh epaaaaaah :-)
    jangan terlalu dipikirin apa omongan orang, let it flow aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Harry..
      Iya secuek-cueknya orang bisa gengges juga kalo dicekokin tiap hari :))

      Hapus
  2. cinta berpihak pada mereka yang siap,.. aku belum siap kok udah nikahhhh huhuhu,....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu yg aku bahas tadi
      "Merasa belum siap, padahal mungkin yang terjadi sebenarnya memang sudah siap"
      Tuhan bekerja dengan cara yang misterius bukan? :)

      Hapus
  3. Sakit suruh nikah, stress suruh nikah, sedih suruh nikah, miskin suruh nikah...
    kalo koment suruh nikah? :D

    BalasHapus
  4. "Masak orang kayak kamu gak ada yang mau sih?"

    "Yang mau sih banyak, tapi maaf, aku pilih-pilih orangnya."

    PIH!

    BalasHapus
  5. Mbak Epahhhh super sekali.. :')

    BalasHapus